Senin, 10 September 2012 - 00:43:55 WIB
JEBAKAN TEMA LOKALITAS (Catatan dari Penjurian lomba Cerpen Kawabanua.com)
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hiburan - Dibaca: 2209 kali

  

Oleh : Randu Alamsyah.

 

Meski tidak begitu sering, beberapa kali saya menjadi juri lomba cerpen yang berlatar Kalimantan Selatan. Biasanya lomba yang digagas oleh perorangan. Mereka yang peduli dengan keberaksaraan dan sekaligus pariwisata, dan budaya daerah. Cerpen-cerpen yang masuk dipersyarati mengikat dirinya pada suatu latar atau tema tertentu yang dimaksudkan untuk mengambil garis hubung yang relevan terhadap pengenalan atau pengkajian lebih mendalam tentang isu-isu kearifan lokal.

Dalam lomba cerpen pada umumnya,  juri punya banyak dimensi dalam menilai kayak tidaknya sebuah cerpen. Ada pelbagai pertimbangan umum yang dirunut tentang itu: ide, orisinalitas, teknik, kedalaman, mungkin juga keterwakilan gender, dan lain-lain. Dalam lomba cerpen yang berlatar Kalimantan Selatan kali ini, latar dan tema lokalitas Kalsel menjadi parameter tambahan atau syarat utama lolosnya sebuah cerpen bahkan hingga menjadi juara.

Dari pengalaman saya, yang selalu saya temui , permasalahannya selalu sama:  latar atau tema selalu menjadi jebakan. Dalam lomba cerpen yang diadakan situs kawabanua.com kali ini, hal seperti ini masih sering terjadi. Tema atau latar Kalsel menjadi kaku, kering, terasa aneh karena seperti hanya ditempelkan begitu saja ke dalam tubuh cerita untuk mengejar persyaratan lomba. Biasanya hal ini terjadi dengan cerpen-cerpen yang dituliskan oleh peserta dari luar daerah. Mereka yang tidak cukup tanak mengenal Kalimantan Selatan hanya bersenjatakan internet sebagai media untuk riset pralomba.

Harusnya dari celah ini, pekerjaan saya menjadi lebih mudah. Saya tinggal mencari mana latar yang keliru, kebudayaan yang kaprah, anakronisme sejarah nama-nama, adat istiadat, kearifan lokal yang tidak “Ngalsel.” Setelah itu, jika ada cerpen yang masih tersisa, maka itulah yang menjadi pemenang dalam lomba kali ini. Teorinya kira-kira begitu.

Beruntunglah saya bukan satu-satunya juri. Dalam lomba kali ini kawabanua.com menggandeng Ramadira dan Benny Arnas. Mereka adalah dua cerpenis nasional yang juga tidak tinggal di Kalimantan Selatan. Ramadira tinggal di Samarinda dan Benny Arnas di Lubuklinggau. Kesubjektifan saya sebagai juri tuan rumah bisa lebih tereduksi karena dua sastrawan muda itu lebih memiliki sudut pandang yang prima dalam menilai cerpen. Saya tidak serta-merta bisa menargetkan mereka yang penguasaan tema dan latar Kalimantan Selatan yang akan menang. Lomba ini akan menjadi lebih sulit dan begitu juga penilaian karena ada banyak dimensi, sudut pandang, objektivitas yang akan dipertarungkan.

Setelah melalui hari-hari penjurian yang panjang, dewan juri akhirnya bersidang. Saya menawarkan chating bertiga di jejaring sosial, Benny Arnas mendesak langsung saja melalui telecall –itu istilahhnya – Ramadira setuju dengan Benny, dan karenanya saya harus setuju pula karena itu berarti ada dua suara yang mendukung telecall. Kelak, Rumus demokrasi ini pula yang akhirnya banyak menolong kami saat terlibat dalam perdebatan alot tentang penempatan juara.

Sehari sebelum penjurian masing-masing juri mengirim nominasi cerpen dalam format yang telah disesuaikan dengan ketentuan lomba. Ada tiga cerpen yang pemenang dan kemudian tujuh nominator lainnya. Benny Arnas dengan tiga nominee-nya: Nafas untuk Arana, Kuriding Bapak dan Galuh Maurak Sari. Ramadira memilih : Galuh Maurak Sari, Nafas untuk Arana, dan Kuriding Macan. Sementara tiga besar saya adalah: Kuriding Bapak, Galuh Maurak Sari dan Nafas untuk Arana.

Jika diperbandingkan, sesungguhnya kami telah sepakat dalam memilih cerpen yang laik menjadi juara juara. Perbedaannya hanya tinggal komposisi. Pemecahannya sangat mudah karena secara matematis  penilaian cerpen dengan nilai tertinggi adalah cerpen yang dipilih oleh tiga juri sekaligus. Dalam hal ini ada dua cerpen yang masuk dalam tiga besar dan dipilih oleh semua juri: Galuh Maurak Sari dan Nafas untuk Arana.

Cerpen Galuh maurak Sari dalam nominasi Benny Arnas berada di peringkat ketiga. Saya memilihnya sebagai juara kedua. Ramadira menempatkannya di juara pertama. Sebaliknya, cerpen Nafas untuk Arana pada pilihan saya hanya berada di posisi ketiga.. Ramadira meletakannya di posisi kedua dan Benny mengusungnya sebagai juara pertama.

Hanya ada beberapa catatan tentang cerpen Galuh Maurak Sari. Benny mengatakan pada mulanya ia terpaut dengan cerpen itu. Sayang, tema dan teknik berceritanya mengadopsi bulat-bulat cerpen Benny Arnas Bujang Jauh yang pernah dimuat Koran Tempo (2011). “Andai saja ia tidak memulakan tiap plot dengan pantun, tentu cerpen ini tidak akan jatuh pada duplikasi teknik yang akut,” katanya sembari menerangkan tema dan alur ceritanya menduplikasi “kempunan”, sekuel Bujang Jauh yang diterbitkan Horizon (2012).

Saya kemudian mencoba mencari cerpen Benny yang dimaksud. Saya mendapatkannya di sebuah situs dan kemudian membacanya. Saya setuju dengan Benny. Tekniknya identik dan ada beberapa ekspresi yang hampir mustahil bisa serupa itu. Saya membayangkan penulisnya mungkin meneliti karya-karya juri lomba dan mempelajari kecenderungan-kecenderungannya lalu mengadopsinya dengan teknik yang sama. Apakah penulisnya plagiat? Kami bertiga sepakat untuk mengatakan tidak. Riset untuk menyiasati juri itu diperbolehkan dalam lomba. Penulisnya hanya terlalu kreatif hingga tak sempat memedulikan rambu-rambu etis yang menyangkut orisinalitas. Itu adalah sebuah noda dan keberatan Benny untuk menjadikan cerpen itu di posisi pertama bisa kami maklumi.

Maka pilihan selanjutnya hanya tinggal Nafas untuk Arana. Secara otomatis cerpen ini menjadi juara pertama. Galuh Maurak Sari sementara kami tepikan ke posisi dua. Perdebatan masih berlangsung. Beberapa kali sambungan terputus karena ternyata provider kami kurang cukup tangguh. Saya sering tertawa karena baik Benny maupun Ramadira sering keseleo lidah menyebut judul Galuh Maurak Sari. Benny yang orang Lubuklinggau itu dengan cengkoknya menyebut Galuh Maruak Sari.

Jika semua menyepakati cerpen ini tak lagi baru secara teknik, maka keunggulannya hanya tinggal pada tema dan kedalaman cerita. Dari persepsi ini, maka Galuh Maurak Sari hanya tinggal kelopak bunga  karena telah kehilangan sari. Ia bahkan kalah dengan cerpen Kuriding Bapak yang menurut saya dan Benny lebih matang dalam segi cerita. Ramadira? “Kalau kalian berdua telah sepakat, artinya secara aklamasi saya kalah,” katanya. Kami tertawa. Tapi memang harusnya demikian kecuali jika kami ingin berdebat satu hari satu malam dengan telinga yang terus menempel di telepon.

Maka setelah perdebatan panjang itu, kami akhirnya bersepakat untuk tiga juara. Pertama : Nafas untuk Arana. Juara kedua: Kuriding Bapak. Juara Ketiga: Galuh Maurak Sari.

Nominasi cerpen selanjutnya tinggal kami sesuaikan dengan pola serupa. Ada lima cerpen - di luar juara -yang masuk dalam nominasi cerpen terbaik dan kami pilih bersama: Langit Gedambaan, Kuriding Macan, Kesalahan Angin Selatan, Lingkaran Jodoh di Banjarmasin dan Pembulantikan. Sejauh itu, kami telah mendapatkan delapan cerpen yang “inkraacht.” Hanya tinggal dua cerpen lagi. Meski demikian, tetap saja tak mudah.

Seperti sebuah pertarungan final, kami saling mengeliminasi hingga babak akhir. Cerpen Cintaku Tertambat di Barito menurut saya terlalu berpretensi frontal untuk berpromosi. Ia lebih mirip  brosur atau guiding story yang dikeluarkan dinas pariwisata daripada sebuah cerita. Cerpen selanjutnya Jejak maaf menurut saya terlalu  bermasalah dengan tanda baca yang mengganggu:  Tak ada spasi setelah titik atau koma, tanda tanya terlalu banyak,  tak ada koma dalam kalimat langsung dan hanya ada tanda petik, dan sebagainya. Saya mengeliminirnya dari  nominasi Ramadira dan memasukan cerpen Perjalanan Senja dan Bertemu Dewi Bulan. Tapi kemudian Benny mengkritisi pilihan saya terakhir. Ia setuju pada cerpen Perjalanan Senja dan telah memasukannya dalam nominee-nya. Dua banding satu lagi dan Ramadira harus setuju. Tapi Ramadira dan Benny Arnas seketika menolak pada cerpen Bertemu Dewi Bulan. “Tanda bacanya terlalu kacau, huruf besar dan huruf kecil-nya tak tertata.” Sebagai gantinya, Benny memilih cerpen Akar Cermin. Saya dan Ramadira setuju.

Sampai di ujung penjurian, kami akhirnya mengetok palu untuk tiga cerpen juara dan tujuh nominator non peringkat. :

(1)   Nafas untuk Arana

(2)   Kuriding Bapak

(3)   Galuh Maurak Sari.

Nominasi cerpen non peringkat: Langit Gedambaan, Kuriding Macan, Kesalahan Angin Selatan, Lingkaran Jodoh di Banjarmasin dan Pembulantikan, Perjalanan Senja dan Akar Cermin.

Kepada para penulisnya, Selamat!

 

 

***

 

Di antara para peserta ada dua cerpen yang mengangkat judul hamper sama. Kuriding Bapak dan Kuriding Macan. Keduanya masuk dalam nominasi sebagai cerpen pilihan dewan juri. Saat proses penjurian saya mencoba menccari tahu apa makna Kuriding atau apa benda Kuriding itu sebenarnya? Saya sendiri asing dengan Kuriding. Pemilik situs kawabanua.com sempat menanyakannya kepada para seniman yang biasa kumpul-kumpul di Minggu Raya. “Mereka juga banyak yang tidak tahu,” katanya. Hal yang ironis dan agak menggelikan karena setelah saya mengecek para penulis cerpen itu ternyata mereka adalah orang di luar Kalsel.

Kuriding sejatinya adalah sebuah alat music Kalsel yang sudah hampir punah. Nasibnya mungkin seperti seni Balamut yang akhir-akhir ini di revivalisasi oleh Sainul Hermawan, dosen Unlam yang menempuh program doctoral di UI. Setelah lomba cerpen ini kita bisa berharap para seniman dan masyarakat pada umumnya isa lebih mengenali lagi kesenian lokal dan kebudayaan daerah itu sendiri. Saya membayangkan, alangkah ringannya kerja dinas pariwisata dengan lomba-lomba cerpen semacam ini.

Pemilik situs kawabanua.com, Awan Hadi mengatakan tahun depan ia berniat untuk mengadakan lomba serupa dengan hadiah yang lebih banyak. “ Tujuan saya adalah untuk terus memperkenalkan pariwisata dan kearifan lokal di Kalsel melalui lomba menulis cerpen, nanti kita akan usahakan hadiahnya terus bertambah” ucapnya.

 

Sumber : Koran Radar Banjarmasin, Minggu, 9 September 2012.




116 Komentar :

HE. Benyamine
10 September 2012 - 07:53:06 WIB

entah kepada siapa Awan Hadi bertanya tentang Kuriding di Mingguraya, sehingga jawabannya “Mereka juga banyak yang tidak tahu,” ....
Cara Cepat Hamil
18 Desember 2012 - 22:05:18 WIB

Sangat menarik...
Obat Kanker Prostat Alami
03 Januari 2013 - 13:40:54 WIB

Terimakasih infonya.
sewa mobil di lombok
25 Juni 2013 - 17:05:18 WIB

terimakasih telah berbagi ilmu dan informasi nya semoga bermanfaat untuk pengunjung lainnya juga
http://goo.gl/orXUc http://goo.gl/Jswos http://goo.gl/ZU46J http://goo.gl/VmVCC
Penipuan Jasa SEO
15 Juli 2013 - 19:15:46 WIB

tx info nya sangat menarik sekali
Translation services
07 Agustus 2013 - 01:05:16 WIB

selalu saja dapat info menarik tiap berkunjung kesini
Fixed Price Seo Packages
22 Agustus 2013 - 01:59:27 WIB

websitenya keren, update terus infonya gan
Pengobatan herbal
14 September 2013 - 14:43:18 WIB

terimaksih untuk infonya,,
sukses selalu,,to the next info..
Obat ambeien dan wasir
18 September 2013 - 09:42:42 WIB

Thanks telah berbagi infonya,,be the best to the next info,,
Obat Campak
19 Oktober 2013 - 09:03:09 WIB

Informasinya sangat inofatif dan mendidik sekali
<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | ... | 12 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)